Perilaku Konsumen di Tengah Krisis: Dari Panic Buying ke Penundaan Pembayaran

Perilaku Konsumen di Tengah Krisis: Dari Panic Buying ke Penundaan Pembayaran

Di tengah krisis, perilaku konsumen berubah drastis—dari panic buying yang impulsif hingga penundaan pembayaran yang strategis. Artikel Perilaku Konsumen di Tengah Krisis: Dari Panic Buying ke Penundaan Pembayaran ini mengulas dinamika ekonomi mikro di balik keputusan konsumen, serta cara Gen Z dan milenial bisa lebih bijak dalam merespons tekanan ekonomi.

Perilaku Konsumen di Tengah Krisis: Dari Panic Buying ke Penundaan Pembayaran

🧠 Konsumen Bukan Sekadar Pembeli—Mereka Aktor Ekonomi yang Adaptif

Dalam ekonomi mikro, konsumen adalah individu atau rumah tangga yang membuat keputusan pembelian berdasarkan preferensi, pendapatan, dan harga. Tapi saat krisis melanda—entah karena pandemi, konflik politik, atau inflasi—perilaku konsumen bisa berubah drastis. Mereka tidak lagi rasional sepenuhnya, melainkan dipengaruhi oleh emosi, ketakutan, dan tekanan sosial.

Menurut studi dari UNP dan Associe.co.id, krisis memicu dua pola ekstrem: panic buying dan penundaan pembayaran. Keduanya mencerminkan respons adaptif terhadap ketidakpastian, meski sering kali berdampak negatif pada pasar dan diri sendiri.

💸 Panic Buying: Ketika Ketakutan Mengalahkan Logika

Panic buying adalah perilaku membeli barang secara berlebihan karena takut kelangkaan. Fenomena ini muncul saat konsumen merasa pasokan akan terganggu, harga akan naik, atau akses akan dibatasi.

Contoh nyata:

  • Saat pandemi COVID-19, masyarakat menimbun masker, hand sanitizer, dan sembako.
  • Di tengah krisis politik 2025, warga Indonesia memborong minyak goreng dan beras karena takut distribusi terganggu.

Dampaknya:

  • Kelangkaan barang di pasar
  • Kenaikan harga karena permintaan melonjak
  • Konsumen lain kesulitan mengakses kebutuhan pokok

Opini umum: Panic buying sering dipicu oleh informasi yang tidak lengkap atau hoaks. Media sosial mempercepat penyebaran kepanikan.

📉 Penundaan Pembayaran: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan

Berbeda dari panic buying yang impulsif, penundaan pembayaran adalah respons rasional terhadap krisis. Konsumen menunda bayar tagihan, cicilan, atau belanja besar demi menjaga arus kas.

Motivasi utama:

  • Ketidakpastian pendapatan
  • Prioritas kebutuhan pokok
  • Menghindari gagal bayar

Contoh:

  • Gen Z yang menunda bayar cicilan gadget demi kebutuhan makan
  • Milenial yang menunda belanja fashion karena fokus pada dana darurat

Menurut studi dari STIE YKPN, penundaan pembayaran bisa jadi strategi bertahan yang sehat, asal disertai komunikasi dengan kreditur dan perencanaan keuangan yang jelas.

🧩 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Saat Krisis

  1. Pendapatan dan pekerjaan Konsumen dengan penghasilan tetap cenderung lebih stabil, sementara pekerja informal lebih rentan.
  2. Akses informasi Konsumen yang terpapar berita hoaks lebih mudah panik.
  3. Literasi keuangan Mereka yang paham manajemen risiko cenderung menunda konsumsi dan menjaga cash flow.
  4. Tekanan sosial Lingkungan bisa mendorong panic buying atau gaya hidup konsumtif meski kondisi tidak memungkinkan.

💡 Tips Bijak untuk Gen Z dan Milenial

  • Jangan ikut-ikutan panic buying Belanja sesuai kebutuhan. Cek stok rumah sebelum beli.
  • Prioritaskan pengeluaran pokok Gunakan prinsip 50/30/20: 50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/utang.
  • Komunikasikan jika menunda pembayaran Hubungi pihak kreditur atau penyedia layanan. Banyak yang menyediakan restrukturisasi.
  • Bangun dana darurat Minimal 3–6 bulan pengeluaran rutin. Ini jadi tameng utama saat krisis.
  • Evaluasi gaya hidup digital Kurangi langganan yang tidak terpakai, batasi belanja impulsif lewat e-commerce.

📊 Studi Kasus: Konsumen Indonesia 2025

  • Panic buying di Jakarta: Menjelang pemilu, warga memborong sembako karena takut konflik. Harga naik 15% dalam seminggu, lalu turun setelah situasi stabil.
  • Penundaan pembayaran di Bandung: Banyak pekerja freelance menunda bayar cicilan motor. Setelah negosiasi, mereka mendapat perpanjangan tenor dan bisa tetap produktif.

Insight: Perilaku konsumen saat krisis bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal psikologi dan strategi bertahan.

🔚 Kesimpulan: Konsumen Cerdas = Ekonomi yang Tangguh

Krisis akan selalu datang dan pergi. Tapi perilaku konsumen menentukan seberapa besar dampaknya. Panic buying bisa memperparah situasi, sementara penundaan pembayaran bisa jadi strategi bertahan yang sehat.

Buat Gen Z dan milenial, kuncinya adalah literasi keuangan, kontrol diri, dan komunikasi. Karena di tengah krisis, keputusan kecil bisa berdampak besar.

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan bantuan mengenai permasalahan utang piutang, konsultasikan segera bersama kami. Kami siap membantu dalam memberikan solusi atas masalah utang piutang Anda.
👉 Klik di sini untuk menghubungi kami

Apakah informasi ini bermanfaat?

Ya
Tidak
Terima kasih atas umpan baliknya!

Jasa penagihan utang terpercaya

Indra Pratama

Indra Pratama

CFO

Kami merasa sangat terbantu dengan layanan Debt. Prosesnya sederhana, namun hasilnya maksimal dan efesien.

Laras Putriani

Laras Putriani

Direktur Pengembangan Bisnis

Dengan dukungan Debt, proses penagihan menjadi lebih mudah dan terstruktur. Sangat memuaskan!

Rini Astuti

Rini Astuti

Direktur Keuangan

Dengan pendekatan yang sistematis dan profesional, Debt berhasil membantu kami menyelesaikan banyak masalah penagihan. 

Baca juga

Tips

Surat pernyataan pengakuan utang

Surat Pernyataan Pengakuan Utang adalah dokumen tertulis yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak yang berutang (debitur) untuk menyatakan secara resmi bahwa ia