Pembelian impulsif adalah salah satu penyebab utama utang konsumtif di kalangan Gen Z dan milenial. Data OJK 2025 menunjukkan inklusi keuangan pelajar sudah mencapai 69%, tetapi literasi keuangan baru 56,42%, sehingga banyak anak muda rentan menggunakan paylater atau pinjaman online untuk kebutuhan yang bukan prioritas. Akibatnya, 64% Gen Z mengaku mengalami stres finansial, dan 39% menggunakan skema cicilan untuk belanja konsumtif . Artikel ini menjelaskan tentang Risiko Finansial dalam Keputusan Konsumtif: Cara Menghindari Pembelian Impulsif yang Berujung Utang.
Risiko Finansial dalam Keputusan Konsumtif: Cara Menghindari Pembelian Impulsif yang Berujung Utang
π§ Apa Itu Pembelian Impulsif?
Pembelian impulsif (impulse buying) adalah keputusan belanja yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan. Menurut Manulife Indonesia, perilaku ini biasanya dipicu oleh diskon, promosi, atau dorongan emosional sesaat, bukan kebutuhan nyata .
Contoh sederhana: melihat promo βdiskon 50%β untuk sepatu padahal masih punya sepatu layak pakai, lalu langsung membeli tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.
π‘ Mengapa Gen Z dan Milenial Rentan?
- Akses digital tinggi: belanja online dan paylater mudah diakses lewat smartphone.
- Tekanan sosial: FOMO (fear of missing out) membuat anak muda ingin mengikuti tren.
- Literasi finansial rendah: banyak yang belum paham bunga cicilan atau risiko pinjaman online.
- Stres ekonomi: survei menunjukkan 64% Gen Z mengalami stres finansial akibat gaya hidup konsumtif .
π Risiko Finansial dari Pembelian Impulsif
- Utang konsumtif menumpuk Cicilan paylater atau kartu kredit bisa menggerus penghasilan bulanan.
- Arus kas terganggu Dana untuk kebutuhan pokok berkurang karena dialihkan ke cicilan.
- Stres dan kesehatan mental Tekanan utang meningkatkan kecemasan dan menurunkan produktivitas.
- Risiko pinjaman ilegal Banyak pelajar dan anak muda terjebak pinjaman online ilegal karena kebutuhan mendesak .
π Faktor Psikologis di Balik Impulse Buying
Menurut Kompasiana, pembelian impulsif sering dipicu oleh emosi sesaat seperti senang, stres, atau ingin dihargai .
- Reward system otak: belanja memberi rasa puas instan.
- Tekanan iklan digital: algoritma e-commerce menargetkan konsumen dengan promo personal.
- Kurangnya kontrol diri: kebiasaan scrolling marketplace memicu keputusan spontan.
π Studi Kasus Nyata
- Mahasiswa di Jakarta: menggunakan paylater untuk membeli gadget. Awalnya senang, tapi cicilan menumpuk hingga mengganggu biaya kuliah.
- Freelancer di Bandung: membeli kursus online dengan cicilan. Meski ada beban, investasi ini meningkatkan skill dan pendapatan, sehingga cicilan bisa dilunasi dengan tenang.
Insight: Cicilan untuk kebutuhan produktif bisa memberi manfaat jangka panjang, sedangkan cicilan konsumtif sering berujung penyesalan.
π§© Cara Menghindari Pembelian Impulsif
- Gunakan aturan 24 jam Tunda pembelian selama 24 jam. Jika masih merasa perlu, barulah beli.
- Buat anggaran bulanan Alokasikan penghasilan dengan prinsip 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan).
- Batasi akses paylater/kartu kredit Nonaktifkan fitur cicilan untuk belanja non-esensial.
- Prioritaskan kebutuhan pokok Bedakan antara kebutuhan dan keinginan.
- Bangun dana darurat Minimal 3β6 bulan pengeluaran agar tidak bergantung pada utang konsumtif.
- Latih literasi finansial Ikuti kelas atau konten edukasi keuangan agar lebih paham risiko utang.
π Perbandingan: Konsumtif vs Produktif
| Aspek | Pembelian Konsumtif | Pembelian Produktif |
|---|---|---|
| Kepuasan awal | Tinggi | Sedang |
| Kepuasan jangka panjang | Menurun | Meningkat |
| Risiko utang | Tinggi | Lebih rendah |
| Dampak finansial | Beban bunga | Potensi peningkatan pendapatan |
| Utility total | Bisa negatif | Cenderung positif |
π¬ Opini dan Pengalaman Umum
Banyak anak muda merasa cicilan adalah cara βmudahβ untuk menikmati barang impian. Namun, pengalaman umum menunjukkan bahwa cicilan konsumtif sering berakhir dengan penyesalan. Sebaliknya, cicilan untuk kebutuhan produktif (misalnya pendidikan atau alat kerja) lebih sering menghasilkan kepuasan jangka panjang.
π Kesimpulan
Pembelian impulsif adalah risiko finansial nyata bagi Gen Z dan milenial. Utang konsumtif bisa menurunkan kesejahteraan, sementara literasi finansial dan kontrol diri adalah kunci untuk menghindarinya. Dengan strategi manajemen risiko yang tepat, anak muda bisa menikmati gaya hidup modern tanpa terjebak utang.
Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan bantuan mengenai permasalahan utang piutang, konsultasikan segera bersama kami. Kami siap membantu dalam memberikan solusi atas masalah utang piutang Anda.
π Klik di sini untuk menghubungi kami





