Mengapa Literasi Keuangan Rendah Membuat Utang Menumpuk

Mengapa Literasi Keuangan Rendah Membuat Utang Menumpuk

Mengapa Literasi Keuangan Rendah Membuat Utang Menumpuk Itu Penting?

Literasi keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait uang. Ini mencakup pengetahuan tentang tabungan, investasi, utang, hingga perencanaan keuangan jangka panjang. Di Indonesia, literasi keuangan masih tertinggal dibandingkan tingkat inklusi keuangan. Data OJK dan BPS tahun 2025 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan baru mencapai 66,46%, sementara inklusi keuangan sudah 80,51%. Artinya, banyak orang sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum benar-benar paham cara mengelolanya. Artikel ini membahas tentang Mengapa Literasi Keuangan Rendah Membuat Utang Menumpuk.

💡 Hubungan Literasi Keuangan dan Utang

Ketika literasi keuangan rendah, orang cenderung:

  • Tidak memahami bunga dan biaya tambahan dari cicilan.
  • Menganggap paylater atau pinjaman online sebagai solusi instan.
  • Tidak punya perencanaan anggaran, sehingga pengeluaran lebih besar dari pemasukan.
  • Mudah terjebak utang konsumtif, bukan utang produktif.

Fenomena ini terlihat jelas di masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Paylater, kartu kredit, dan pinjaman digital semakin mudah diakses, tetapi tanpa pengetahuan finansial, pengguna rentan menumpuk utang .

📉 Dampak Utang Menumpuk

  1. Cash flow terganggu: cicilan bulanan mengurangi ruang untuk kebutuhan pokok.
  2. Stres finansial: survei menunjukkan banyak Gen Z mengalami tekanan mental akibat utang konsumtif.
  3. Risiko gagal bayar: bunga tinggi membuat utang semakin sulit dilunasi.
  4. Ketimpangan sosial: kelompok dengan literasi rendah lebih rentan terjebak utang dibanding mereka yang paham finansial .

🔍 Faktor Penyebab Literasi Keuangan Rendah

  • Kesenjangan pendidikan: literasi lebih tinggi di kalangan berpendidikan tinggi, laki-laki, dan masyarakat perkotaan.
  • Kurangnya kurikulum finansial: pendidikan formal jarang membahas keuangan pribadi.
  • Kesenjangan digital: masyarakat di daerah terpencil sulit mengakses informasi keuangan.
  • Budaya konsumtif: tren belanja online dan FOMO membuat orang lebih fokus pada konsumsi daripada perencanaan .

📊 Perbandingan: Literasi Keuangan Tinggi vs Rendah

Aspek Literasi Tinggi Literasi Rendah
Penggunaan utang Produktif (usaha, pendidikan) Konsumtif (gadget, gaya hidup)
Cash flow Stabil Sering defisit
Risiko gagal bayar Rendah Tinggi
Tabungan/investasi Ada Minim
Stres finansial Lebih rendah Lebih tinggi

💬 Opini dan Pengalaman Umum

Banyak anak muda merasa cicilan adalah cara mudah menikmati barang impian. Namun, pengalaman umum menunjukkan bahwa cicilan konsumtif sering berakhir dengan penyesalan. Sebaliknya, mereka yang punya literasi keuangan lebih baik cenderung menggunakan utang untuk hal produktif, seperti modal usaha atau pendidikan, sehingga manfaat jangka panjang lebih terasa.

🧩 Panduan Praktis untuk Gen Z dan Milenial

  • Belajar dasar keuangan: pahami bunga, cicilan, dan risiko utang.
  • Gunakan aturan 50-30-20: 50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi.
  • Bangun dana darurat: minimal 3–6 bulan pengeluaran.
  • Hindari utang konsumtif: gunakan utang hanya untuk hal produktif.
  • Ikut literasi finansial digital: manfaatkan konten edukasi dari OJK, BEI, atau komunitas finansial.

🔚 Kesimpulan

Literasi keuangan rendah adalah akar dari masalah utang menumpuk. Tanpa pemahaman tentang bunga, cicilan, dan perencanaan keuangan, masyarakat mudah terjebak dalam utang konsumtif.

Bagi Gen Z dan milenial, meningkatkan literasi keuangan adalah langkah penting untuk menghindari jerat utang dan membangun masa depan finansial yang lebih sehat. Dengan disiplin, edukasi, dan strategi sederhana, utang bisa dikelola, bahkan dihindari.

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan bantuan mengenai permasalahan utang piutang, konsultasikan segera bersama kami. Kami siap membantu dalam memberikan solusi atas masalah utang piutang Anda.
👉 Klik di sini untuk menghubungi kami

Apakah informasi ini bermanfaat?

Ya
Tidak
Terima kasih atas umpan baliknya!

Jasa penagihan utang terpercaya

Indra Pratama

Indra Pratama

CFO

Kami merasa sangat terbantu dengan layanan Debt. Prosesnya sederhana, namun hasilnya maksimal dan efesien.

Laras Putriani

Laras Putriani

Direktur Pengembangan Bisnis

Dengan dukungan Debt, proses penagihan menjadi lebih mudah dan terstruktur. Sangat memuaskan!

Rini Astuti

Rini Astuti

Direktur Keuangan

Dengan pendekatan yang sistematis dan profesional, Debt berhasil membantu kami menyelesaikan banyak masalah penagihan. 

Baca juga

Tips

Surat pernyataan pengakuan utang

Surat Pernyataan Pengakuan Utang adalah dokumen tertulis yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak yang berutang (debitur) untuk menyatakan secara resmi bahwa ia